Jumat, 04 Juni 2010

Kaligata





Kaligata (urtikaria)

DEFINISI
Kaligata (urtikaria) adalah suatu reaksi alergi yang ditandai oleh bilur-bilur berwarna merah dengan berbagai ukuran di permukaan kulit.

PENYEBAB
Kaligata merupakan reaksi anafilaktik yang terbatas pada kulit dan jaringan di bawahnya.
Alergen yang seringkali menyebabkan kaligata adalah:

· Obat-obatan

· Makanan (terutama telur, kerang-kerangan, ikan, kacang-kacangan, susu)

· Serbuk sari

· Serbuk binatang (terutama kucing)

· Gigitan serangga

· Air, cahaya matahai, panas, dingin

· Stres emosional.

GEJALA
Gejalanya bisa berupa:
- gatal-gatal
- pembengkakan diatas permukaan kulit yang berwarna kemerahan dengan batas pinggir yang jelas (timbul secara tiba-tiba, memudar bila disentuh, jika digaruk akan timbul bilur-bilur yang baru)
- bilur-bilur membesar lalu menyebar atau bergabung satu sama lain membentuk bilur yang lebih besar
- bentuknya berubah-ubah, hilang-timbul dalam beberapa menit atau jam.




DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya.
Kadang dilakukan tes kulit untuk alergi.


PENGOBATAN
Jika sifatnya ringan, tidak diperlukan pengobatan khusus karena bisa menghilang dengan sendirinya.
Jika sampai terjadi penyumbatan tenggorokan dan kesulitan bernafas, maka segera dilakukan tindakan darurat.

Untuk mengurangi peradangan, gatal-gatal dan pembengkakan, diberikan antihistamin, epinephrine, terbutalin, simetidin, kortikosteroid atau obat penenang.


PENCEGAHAN
Hindari kontak dengan alergen penyebab kaligata

EPINEPHRINE

Epinefrin (juga dikenal sebagai adrenalin) adalah hormon dan neurotransmitter . Bila diproduksi dalam tubuh meningkatkan laju jantung, pembuluh darah kontrak, melebarkan saluran udara dan berpartisipasi dalam -atau-penerbangan respons melawan dari sistem saraf simpatik . Ini adalah Katekholamin , sebuah monoamina hanya diproduksi oleh kelenjar adrenal dari asam amino fenilalanin dan tirosin

Adrenalin, disebut juga epinephrine. Ini semacam hormon atau neurotransmitter, zat kimia di otak yang menghubungkan informasi antarsel saraf otak. kita tahu epinephrine adalah hormon. Tapi apa fungsinya? Jika disingkat, Epinephrine berfungsi untuk mengendalikan reaksi stres. Ia muncul ketika tubuh berada dalam ”defense mode”, bereaksi untuk mempertahankan diri.

Tapi, tak selalu juga epinephrine bakal dilepaskan tubuh ketika ia sedang panik atau merasa terancam saja. Perasaan-perasaan tertentu juga bisa membuat tubuh melepaskan hormon ini.

Apa dampaknya? Ketika epinephrine mengalir dalam pembuluh darah bersama hormon lain seperti cortisol, secara berulang-ulang ia memacu tubuh untuk berada dalam kondisi siaga, bersiap untuk menghadapi bahaya.

Caranya? Dengan menggenjot suplai oksigen dan glukosa ke dalam otak dan otot, dan meredam fungsi organ-organ tubuh lain seperti perncernaan.

Epinephrine membuat tekanan darah meningkat, denyut jantung semakin cepat, pupil pada kelopak mata melebar, serta aliran darah ke otot utama juga kian deras. Jadi, sewaktu-waktu tubuh sudah siap untuk diajak berkelahi, atau lari.

Banyak-tidaknya epinephrine yang dikeluarkan tubuh memang tergantung dari trigger atau pemicunya. Wahana seperti Tornado di Dufan, misalnya, membuat epinephrine terpicu lebih banyak dibandingkan saat menaiki roller coaster.

TERBUTALINE

Terbutaline saat ini di Dunia Anti-Doping Agency daftar s 'obat terlarang untuk atlet Olimpiade, kecuali bila diberikan oleh inhalasi dan Terapi Gunakan Pembebasan (Selasa) telah diperoleh di muka.

Penggunaan:

Hal ini digunakan sebagai bertindak cepat bronkodilator (sering digunakan sebagai pengobatan asma jangka pendek) dan sebagai tocolytic untuk menunda persalinan prematur Bentuk menghirup dari terbutaline mulai bekerja dalam waktu 15 menit dan dapat bertahan hingga 6 jam.

Efek:

  1. Ibu - takikardia , gelisah , tremor , sakit kepala , hiperglikemia , hipokalemia , dan jarang, edema paru .
  2. Janin - takikardia dan hipoglikemia

SIMETIDIN


Deskripsi:
Simetidin adalah antihistamin penghambat reseptor H2 secara selektif dan reversibel.
Penghambatan reseptor H2 akan menghambat sekresi asam lambung, baik pada keadaan istirahat maupun setelah perangsangan oleh makanan, histamin, pentagastrin, insulin dan kafein.

Pada pemberian oral simetidin diabsorbsi dengan baik dan cepat, tetapi sedikit berkurang bila ada makanan atau antasida.
Kadar puncak dalam plasma dicapai dalam 1 – 2 jam setelah pemberian, dengan waktu paruh 2 – 3 jam.
Simetidin diekskresikan sebagian besar bersama urin dan sebagian kecil bersama feses.

Komposisi:
Tiap tablet mengandung simetidin 200 mg.


Indikasi:
Simetidin digunakan untuk penderita tukak lambung dan duodenum, refluks esopagitis dan keadaan hipersekresi patologis, seperti sindroma Zollinger-Ellison.


Dosis:
Dewasa:
Sehari 3 kali 1 tablet pada waktu makan dan 2 tablet pada waktu akan tidur malam, lama pengobatan minimal 4 minggu.
Dosis pemeliharaan 2 tablet pada waktu malam atau pagi 1 tablet dan malam 1 tablet.

Anak-anak:
Sehari 20 – 40 mg/kg berat badan dalam dosis terbagi.


Pengalaman klinis simetidin pada anak-anak masih terbatas, karena itu, pengobatan dengan simetidin tidak dianjurkan untuk anak-anak, kecuali dokter menganggap manfaatnya lebih besar dari pada resikonya.

Kemasan:
Kotak 10 strip @ 10 tablet

No. Registrasi:
GKL8920907010A1

Produksi:
PT Indofarma TBK

Sabtu, 29 Mei 2010

Evans syndrom

Evans syndrom

patogenesis nama aslinya. Penyakit ini disebabkan oleh adanya antibodi yang dihasilkan secara berlebihan dan mengakitbatkan tubuh melakukan reaksi berlebihan terhadap bakteri atau iritan yang sebenarnya tidak berbahaya. Kali ini antibodi yang "bodoh", mengakibatkan gatal-gatal di permukaan kulit, sampai pada sekitar mulut dan kulit kepala. Gatal-gatal ini bisa menjadi lepuh dan pecah meninggalkan kulit terkelupas dan iritasi. Untungnya penyakit ini masih punya obat dan dapat disembuhkan.
Sekalipun kedua temen gw diatas tidak bisa dipastikan menderita penyakit ini (karena mereka tidak mengkonfirmasi), akan tetapi penyakit ini nampaknya cukup berbahaya dan mengerikan.

Penyakit kedua yang cukup aneh dan baru kuketahui dalam 1 tahun terakhir ini adalah ITP alias Idiophatic Thrombocytopenic Purpura. Apakah itu? seperti unsur namanya, ini adalah penyakit yang mengakibatkan penurunan trombosit, tanpa diketahui penyebabnya. Beberapa ahli meneliti dan menyimpulkan bahwa kemungkinan terbesar penyebabnya adalah disorder antibodi yang mengira trombosit adalah musuhnya, sehingga ia menyerang dan menghancurkan jumlah trombosit yang dihasilkan sum-sum tulang belakang.
Gejala simple-nya adalah : lebam-lebam pada kulit, gusi berdarah, atau klo sudah parah, bisa "buang air besar" yang mengeluarkan darah.
Impact terbesar-nya adalah : pendarahan (karena jumlah trombosit kurang sehingga tidak bisa membekukan darah jika terjadi luka). Jika terdapat pendarahan yang parah, dapat mengakibatkan pendarahan organ dalam dan bahkan otak.
Bisa disembuhkan? So far, tidak ada obat yang ditemukan untuk menyembuhkan penyakit ini, atau untuk menambahkan jumlah trombosit. Transfusi bisa menolong tapi bukan untuk jangka waktu lama. Akan tetapi penyakit ini tidak begitu berbahaya selama antibodi yang "bodoh" itu bisa sedikit ditekan, misalnya dengan steroid.
Walau begitu respon tubuh penderita ITP terhadap steroid bisa berbeda-beda. Ada yang dalam dosis sedikit sudah cukup untuk menormalkan trombosit, ada yang sampai membengkak (mengingat efek steroid menyebabkan moon face) masih belum ada peningkatan yang signifikan.
Apapun itu, penderita ITP, jika bukan karena mujizat menjadi sembuh, maka pasti akan bergantung dengan obat seumur hidupnya. (Sampai sini, mulai terdengar cukup mengerikan).

Penyakit yang ketiga dan paling mengerikan adalah Evans syndrom. Jangan tanya kenapa nama penyakit-nya terdengar bagus. Menurut gw, mungkin penderita pertamanya bernama Evan, makanya diberi nama seperti itu. Hehehe........../......
By theway, penyakit mengerikan ini adalah akibat (lagi-lagi) antibodi yang disorder dan mengenali sel darah merah dan sel darah putih sebagai musuhnya. Dengan sel darah merah dan putih yang menurun, trombosit pun menjadi turun, sehingga seringkali mereka dobel mengidap juga ITP.
Karena menghancurkan sel darah merah, penderita akan mengalami keletihan, lesu, dan sesak napas. Gejalanya hampir seperti anemia biasa tapi dampaknya bisa menjadi sesak napas hebat dan seringkali pingsan. Disertai trombositopenia, menyebabkan penderita juga gampang pendarahan. Sementara karena jumlah sel darah putih juga diserang, penderita mudah terkena infeksi dan tidak mampu melawan infeksi tersebut.
Lebih mengerikan, penyakit ini sama sekali tidak ada obatnya. Steroid, dsj hanya membantu sedikit dalam mengurangi peningkatan jumlah antibodi "bodoh". Tapi berdasarkan penelitian, penggunaan obat-obat inipun hanya mampu membuat pasien bertahan 1 bulan lamanya.
Transfusi pun bukan solusi, karena hanya akan berguna untuk menstabilkan sementara, misalnya saat harus di operasi, dsj. Tapi tidak bertahan lama. Segera setelah kondisi nya stabil, sel darah nya akan kembali menurun drastis.
Intinya, ketika di vonis menderita penyakit ini, hampir bisa dibilang "tinggal menghitung hari". Either terjadi mujizatt atau memang sudah waktunya "pergi".